[DRAMA] Buah Tangan Istimewa
Fiuh, liburan akhir semester ini sebagian
liburan diisi dengan pemadatan materi di sekolah, pake ada tugas segala pula.
But its okay. Jadi gini, gue beserta teman-teman gue dikasih tugas untuk
membuat sebuah cerita drama yang mengandung ungkapan, majas, peribahasa,
penggambaran tokoh, dan pokoknya unsur instrinsik novel. Nah, ini dia
ceritanya.
“Buah
Tangan Istimewa”
Suatu hari Agung berlibur ke Bandungan,
Semarang, Jawa Tengah. Nafis yang mengetahui hal itu ia menelfon Agung
untuk dibelikan kelengkeng dan Agung mengiyakannnya.
Nafis :
halo kawan, bagaimana liburanmu?
Agung :
wah. Lhek godek. Sejuk sekali udara disini, bisa betah aku disini
Nafis :
woo, memangnya kamu dimana?
Agung :
ini aku sedang di Bandungan nih, mau buah tangan khas Bandungan tidak?
Nafis :
wah, jos! Boleh tuh, kelengkeng kan pasti?
Agung :
iya dong, ya sudah nanti aku belikan. Sampai jumpa di sekolah ya
Nafis :
baik, aku tunggu
Esok harinya Hanif, Dewi, Agung dan Nafis berkumpul
di kantin sekolah sambil menceritakan tentang libuaran mereka.
Hanif :
hai kawan, bagaiaman liburan kalian?
Dewi :
wuh, seru! Kalau kamu?
Hanif :
wah, aku sih A1 segondok!
Agung :
wuh, lebih seru liburanku dong
Nafis :
oh ya, mana buah tangan baut aku?
Agung :
tuh di kelas
Dewi :
buah tangan? Aku dan Hanif dibelikan juga tidak?
Agung :
nggak, kan kalian tidak bilang kalau ingin dibelikan juga
Tiba-tiba Hanif berpikiran jahat untuk
menggelapkan buah tangan dari Agung untuk Nafis
Hanif :
huh, masa yang dibelikan hanya Nafis. Tapi.. wah lha ini, ini, ini, lheb ini.
Aku ke kelas ah untuk menggelapkan buah tangan itu (pikirnya)
Kemudian Hanif pergi ke kelas dan mengajak
Dewi untuk diadikan alibi dalam aksinya. Tak beberapa lama, Navis dan Agung
kembali ke kelas untuk mengambil buah tangan untuk Nafis.
Nafis :
mana gung? Cepat mana buah tangannya?
Agung :
iya, ini sedang aku ambilkan dari tas (melihat isi tas dengan wajah sedikit
panik) lho? Kok hilang, kemana kelengkengku?
Nafis :
yang benar? Jangan-jangan kamu bohong, dasar tong kosong nyaring bunyinya!
Agung :
serius, aku membawanya tadi, tetapu mengapa sekarang tidak ada? (dengan nada
cukup keras)
Hanif :
wuelele, ada apa ini?
Agung :
ini kawan, buah tangan untuk Nafis hilang
Hanif :
gemebel, pasti ada yang panjang tangan
Agung :
mm.. Dewi! Pasti kamu yang mengambil buah tangan yang elok, lezat dan
nikmatku itu!
Dewi :
apa? Mengapa kau mengkambing hitamkan aku? Aku hanya kertas putih
yang suci yang tidak tahu apa-apa dalam hal ini
Nafis :
lalu siapa lagi kalua bukan kamu?
Hanif :
lha nggeh, saestu! Aku kan dari tadi di kantin
Dewi :
apaan? Perasaan tadi kamu mengajak aku untuk kembali ke kelas deh
Hanif :
oh iya, tetapi kan bukan aku yang mengambil
Dewi :
sebentar-sebentar, itu di bangku si Hanif kok ada kulit kelengkeng beserta
aromanya? (menghampiri bangku Hanif sambil mengendus-ngendus)
Navis :
kawan, tak mungkin kan kau pelakunya> (melirik Hanif)
Hanif :
em em eee hehe
Agung :
wa lha ini harus dicek dulu ( menghampiri bangku Hanif dan membuka tas Hanif)
astaganagabuahnagadibagidua! Ini aku temukan buah tangan yang
elok, nikmat seperti aku yang bertuliskan “
to Nafis”
Nafis :
oh kawanku, ternyata kau panjang tangan! Kau mengahncur leburkan
pilar-pilar kepercayaanku padamu. Oh.. bagaikan petir-petir yang menyambar di
siang bolong
Agung :
kau benar, bagai djarum-djarum yang menghujam jantungku
Dewi :
jah, ternyata lain di bibir lain dihati. Kamu bilang kamu tidak
mengambilnya?
Navis :
jangan-jangan air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga
Hanif :
apa kau bilang? Jangan seenaknya ya! Tadi kan hanya iseng
Agung :
halah, kamu alas berjawab tepuk berbatas! Tadi kan kamu sudah aku
traktir choki-choki satu lusin. Mengapa air susu dibalas dengan air tuba?
Akhirnya pelaku pencuri kelengkeng pun di
temukan. Hanif sebagai pencuri kelengkeng tersebut, ia dilaporkan ke pihak yang
berwajib atas perbuatan kejinya.