Selasa, 11 Desember 2012
What Should I Do (kata pengantar)
hai!
sebelumnya gue minta maaf karena nggak ngasih tau dari awal. buat yang baca blog gue, terutama postingan "What Shoul I Do" itu cerita karangan gue sendiri. asli binti original (jenis kelaminnya kebetulan cewek).
ini bukan curhatan gue, melainkan pemikiran dan imanjinasi gue dalam merasakan suatu hal dan keadaan. dan ada beberapa part atau keadaan yang sama dengan keadaan gue, berarti nggak semuanya sama dengan kehidupan gue ya.
so, enjoy this cerpang! (cerita panjang) :)
sebelumnya gue minta maaf karena nggak ngasih tau dari awal. buat yang baca blog gue, terutama postingan "What Shoul I Do" itu cerita karangan gue sendiri. asli binti original (jenis kelaminnya kebetulan cewek).
ini bukan curhatan gue, melainkan pemikiran dan imanjinasi gue dalam merasakan suatu hal dan keadaan. dan ada beberapa part atau keadaan yang sama dengan keadaan gue, berarti nggak semuanya sama dengan kehidupan gue ya.
so, enjoy this cerpang! (cerita panjang) :)
Minggu, 25 November 2012
What Should I Do? (II)
Suatu hari ketika ku hendak pergi ke sekolah, aku sudah terlebih dahulu ribut dengan ibuku
hanya karena kebiasaan wajahku yang masam karena aku sedang memikirkan
masalahku disekolah. Aku dan ibu memang tidak pernah cocok. Ibu jarang sekali
mengerti keadaanku. Aku jarang sekali berkomunikasi dengan ibuku karena aku
seorang yang pendiam, tidak suka mengeluh dan tertutup. Tidak seperti Ibuku
yang sering mengeluh dan basa-basi. Itu yang aku tidak suka dari Ibuku. Ibuku
juga terkadang suka berbohong padaku, bahkan dengan yang lain. Aku tidak tahu
apa alasannya. Aku pernah menganggap Ibu berbohong karena aku tahu Ibu sering
berbohong dan aku sudah besar, aku bukanlah anak kecil yang mudah dibohongi.
Aku sering menuduh Ibu berbohong dan memperingatkan agar Ibu jangan suka
berbohong tetapi yang ada malah ribut dan aku disuruh ikut saja dengan Ayahku.
Aku pikir, secara terimplisit Ibu mengusirku. Katanya, Ia sudah tidak sanggup
lagi mengurusku. Tetapi tidak aku hiraukan. Aku tetap tinggal bersama Ibuku. Karena
aku berangkat dengan keadaan emosi, aku mengemudikan kendaraanku dengan
kecepatan menuju ke sekolah. Tidak peduli dijalan aku akan terjadi kecelakaan
atau tidak. Sialnya, di tengah perjalan aku harus menghadapi macet.
Sesampainya didepan sekolah, aku melihat bahwa pintu gerbang
akan segera ditutup. Aku langsung memacu kendaraanku dan berteriak pada Pak
satpam agar tidak ditutup dahulu. Hampir saja aku menabrak Pak satpam ketika
hendak menutup pintu gerbang. Setelah berhasil masuk lagsung ku parkirkan
kendaraanku dan menuju ke area dalam sekolah untuk absen sidik jari. Penampilanku
pada saat itu sangat berantakan. Lupa memakai ikat pinggang, dasi tidak rapi,
rambut pun berantakan. Ketika aku absen, ada petugas STP2K yang memperhatikanku
dan mengetahui bahwa aku tidak mengenakan ikat pinggang. Aku pun dihukum untuk
push-up sebanyak 15 kali. Aku pun melaksanakannya, tetapi belum genap 15 kali
ketika petugas STP2K tersebut sedang memperhatikan siswa yang lain aku kabur
menuju ke ruang kelasku.
Sesampainya diruang kelas, aku melihat guruku sudah mulai
mengajar. Aku mengetuk pintu dan meminta izin masuk. Aku pun di izinkan masuk
dan langsung disuruh mempresentasikan hasil pekerjaan rumahku. Aku lupa jika
ada PR, bahkan apa PR tersebut pun aku tidak tahu. Sungguh berantakan. Hidupku
berantakan, sekolahku berantakan, bahkan sampai penampilanku pun berantakan.
Aku langsung mengambil buku tugas dan buku catatanku dan aku langsung ingat apa
PRnya. Setelah aku membaca buku catatanku sejenak, dengan percaya diri aku
mempresentasikan hasil pekerjaan rumahku. Untung Pr tersebut mudah bagiku.
Prnya adalah membuat sebuah setting drama dipantai.
Dengan berpegang buku tugasku yang masih kosong, otak dan
kepercayaan diriku, aku maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil
pekerjaanku. Aku disuruh membacakannya oleh gurukku, tetapi karena tidak ada
yang dapat aku baca, aku hanya dapat berpura-pura membaca, berfikir dan asal
berbicara untuk menjawab tugas yang guruku berikan. Dengan sedikit putus-putus
dalam menjawabnya. Karena sebenarnya diriku adalah sesosok orang yang humoris,
jadi aku sering menyeleweng dan meninggalkan bekas lucu. Tetapi tidak banyak
orang yang tahu terutama keluargaku.
Setelah ku mempresentasikan pekerjaanku, guruku memangilku
untuk mengecek hasil pekerjaanku dibuku tugasku dan diberinya nilai. Tadinya
aku tidak mau menuruti perintahnya, tetapi dengan terpaksa, dengan ragu aku
menghampirinya dan menyerahkan buku tugasku. Persis dengan apa yang ku tebak.
Guruku kaget melihat buku tugasku. Dibolak-baliknya kertas kosong yang terdapat
pada buku tugasku tersebut.
“mana hasil pekerjaanmu yang kamu persentasikan Tantri?”
tanyanya
“ada disitu kan pak?” jawabku agak ragu sambil menujuk buku
tugasku
“mana? Tidak ada? Kamu membohongi saya ya?”
“maaf pak..”
“oh.. pintar ya kamu. Bisa mengerjakan tugas secara langsung
dengan hanya membaca tugas dan latihan kemarin secara sekejap. Cerdas.”
“te..ter.. terimakasih pak” jawabku terbata-bata
“tetapi tidak begini caranya! Kamu membohongi saya!” bentaknya
“a..am..ampun pak” jawabku ketakutan
“kembali ke tempat dudukmu!” perintahnya
“baik pak” jawabku
Lalu aku kembali ke bangkuku dan
duduk. Aku melihat semua teman-temanku
melihatku dengan berbagai tatapan. Ada yang terlihat melihatku dengan kasihan,
kecewa, bahkan melihatku dengan pandangan yang tidak enak dan menganggapku anak
yang buruk. Ini membuatku bertambah tidak betah dengan kelasku. Apalagi jika
mereka sedang bergosip. Walaupun tidak membicarkanku, tetapi menurutku mereka
terlalu mengurusi kehidupan orang lain. Aku tidak habis pikir mengapa mereka
seperti itu. Menurutku, biarlah orang seperti itu untuk apa kita membicarakan
kejelekan dan kehidupannya? Tidak guna.
Kamis, 22 November 2012
Do you feel like this?
mungkin kalian pernah berfikir untuk pergi dari rumah dan tak ingin pulang. ingin merasakan hidup sendiri, melakukan apapun sendiri dengan keinginan sendiri. dan itu biasa terjadi pada anak-anak yang sering mempunyai masalah keluarga sehingga tidak betah di rumah. tetapi tahukah kalian hidup sendiri tidak sepenuhnya menyenangkan. hidup sendiri karena ego itu hanya dapat menghasilkan kesenangan sementara.
begitu banyak anak yang ingin minggat bahkan sudah melakukannya. jika kalian pernah? apa yang kalian rasakan dan bagaimana akhirnya? saya yakin, setiap orang mempunyai cerita masing-masing. jujur, sue nggak pernah minggat. gue udah sering sendiri dan untuk apa minggat?
pernah suatu ketika, tepatnya hari ini, ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. di gue sedang tidak sendiri, ada mama dan nenek gue. sepertinya gue sudah sering ribut sama mama, tapi itu hanya hal sepele dan mudah untuk dilupakan.
hari ini pagi-pagi gue udah ribut sama mama. gue pun yang biasanya berangkat sekolah diantar, gue berangkat sendiri dengan menggunakan sepeda motor. di jalan gue gue cuman bisa nangis sambil mengendarai sepeda motor gue dan terlintas, gue nggak mau pulang. tapi gue mau kemana kalau nggak pulang? ke rumah teman? jujur gue nggak suka ngrepotin. ke rumah keluarga lain? rasanya nggak mungkin numpang dan ketika ditanya apa alasannya dan gue akan menjawab, "mama menyebalkan".
sesampainya di sekolah, gue masih bisa lega karena dapat menghabiskan sebagian waktu gue. dan mulai bingung ketika jam sekolah usai. pulang. ya pulang. hampir semua orang di sekolah akan pulang ke rumah masing-masing. sedangkan gue? gue ingin pulang, tapi kemana? gue bingung.
biasanya jika tidak ada yang dikerjakan di sekolah, pulang sekolah gue akan langsung pulang ke rumah. tetapi ini tidak. gue sedikit menulur waktu sampai gue putuskan untuk ke rumah tante. ya, gue sering nginep di rumah tante karena gue juga terkadang malas untuk terus-terusan di rumah sedirian.
di perjalanan, gue ngebut karena masih terbawa sedikit emosi gue tadi pagi.disamping gue emosi dan ngebut, gue terpikirkan masalah tadi pagi. hampir sampai di rumah tante, tangan gue lemas dan rasanya ingin melepaskan kedua tangan gue dari stang motor gue sambil memejamkan mata dan badan yang mulai sedikit lemas. tetapi tiba-tiba aku tersadar. gue harus tetap baik-baik saja. masih ada nyokap yang kerja untuk gue sayang sama gue, bokap yang kerja juga jauh diluar kota dan sangat merindukan gue, kakak yang walaupun begitu gue yakin dia sayang sama gue. gue bersyukur punya kakak seperti itu.
jadi begini, kita haarus berfikir panjang sebelum melakukan sesuatu. kita harus memikirkan apa akibat dari yang kita lakukan. ya walaupun tidak tersurat dalam tulisan ini. tetapi gue yakin kalian mengerti.
sekian.
begitu banyak anak yang ingin minggat bahkan sudah melakukannya. jika kalian pernah? apa yang kalian rasakan dan bagaimana akhirnya? saya yakin, setiap orang mempunyai cerita masing-masing. jujur, sue nggak pernah minggat. gue udah sering sendiri dan untuk apa minggat?
pernah suatu ketika, tepatnya hari ini, ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. di gue sedang tidak sendiri, ada mama dan nenek gue. sepertinya gue sudah sering ribut sama mama, tapi itu hanya hal sepele dan mudah untuk dilupakan.
hari ini pagi-pagi gue udah ribut sama mama. gue pun yang biasanya berangkat sekolah diantar, gue berangkat sendiri dengan menggunakan sepeda motor. di jalan gue gue cuman bisa nangis sambil mengendarai sepeda motor gue dan terlintas, gue nggak mau pulang. tapi gue mau kemana kalau nggak pulang? ke rumah teman? jujur gue nggak suka ngrepotin. ke rumah keluarga lain? rasanya nggak mungkin numpang dan ketika ditanya apa alasannya dan gue akan menjawab, "mama menyebalkan".
sesampainya di sekolah, gue masih bisa lega karena dapat menghabiskan sebagian waktu gue. dan mulai bingung ketika jam sekolah usai. pulang. ya pulang. hampir semua orang di sekolah akan pulang ke rumah masing-masing. sedangkan gue? gue ingin pulang, tapi kemana? gue bingung.
biasanya jika tidak ada yang dikerjakan di sekolah, pulang sekolah gue akan langsung pulang ke rumah. tetapi ini tidak. gue sedikit menulur waktu sampai gue putuskan untuk ke rumah tante. ya, gue sering nginep di rumah tante karena gue juga terkadang malas untuk terus-terusan di rumah sedirian.
di perjalanan, gue ngebut karena masih terbawa sedikit emosi gue tadi pagi.disamping gue emosi dan ngebut, gue terpikirkan masalah tadi pagi. hampir sampai di rumah tante, tangan gue lemas dan rasanya ingin melepaskan kedua tangan gue dari stang motor gue sambil memejamkan mata dan badan yang mulai sedikit lemas. tetapi tiba-tiba aku tersadar. gue harus tetap baik-baik saja. masih ada nyokap yang kerja untuk gue sayang sama gue, bokap yang kerja juga jauh diluar kota dan sangat merindukan gue, kakak yang walaupun begitu gue yakin dia sayang sama gue. gue bersyukur punya kakak seperti itu.
jadi begini, kita haarus berfikir panjang sebelum melakukan sesuatu. kita harus memikirkan apa akibat dari yang kita lakukan. ya walaupun tidak tersurat dalam tulisan ini. tetapi gue yakin kalian mengerti.
sekian.
Wah.. Pinter Dong
Gue
memang bukan orang yang pintar, cerdas bahkan jenius. Karena suatu keadaan yang membuat gue berubah
menjadi turun prestasi dalam nilai dan membuat gue harus melanjutkan pendidikan
menengah atas gue di sebuah sekolah yang biasa aja. Tetapi dengan terjadinya
ini, gue menjadi merasakan semua apa rasanya sekolah di sekolah favorit dan
sekolah yang biasa aja. Rasanya berbeda. Tetapi, inilah akibat yang gue
perbuat.
Rasanya
sekolah di sebuah sekolah yang biasa aja, terkadang membuat pesimis jika
bergaul dengan teman-teman yang sekolah di sekolah favorit, tetapi ada
keberuntungan di nama sekolah gue untuk bahan ngeles. Gue sekolah di SMA 13. Di
kota gue sekolah favoritnya itu SMA 1 dan SMA 3.
“ah,
terkadang gue malu kalo ke mall pake seragam sekolah. Ketemu anak-anak SMA
favorit jadi gimana gitu” keluh temen gue
“ngapain
malu? Kita paling hebat kali. SMA 13 itu levelnya gabungan antara SMA 1 dan SMA
3. So, level sekolah kita lebih tinggi dibanding mereka. Kita lebih favorit dan
sekolah kita sudah pantas menjadi Sekolah Bertaraf Internasional!” ngeles gue
goblok
Terus
misalnya pulang lebih awal alias balik gasik.
“yee...
pulang gasik.. ayo ngemall!” ajak gue
“ah,
malu ah nggak bawa jaket. Bagde lokasinya keliatan” tolak temen gue
“hayah..
tinggal tutup angka satunya atau tiganya biar keliatan anak SMA 1 atau 3 gitu
pake label” suruh gue
“nah,
bagde logonya?”
“didedel
dulu sini” *ambil pisau*
K
Awal
gue SMA berangkat dan pulang sekolah gue diantar jemput oleh Mama. Suatu hari
di hari Rabu sehabis gue ekstrakulikuler Web and Design gue pulang sekolah
dengan di jemput Mama. Tidak seperti biasanya, sebelum pulang ke rumah gue
diajak Mama untuk membeli koran di daerah Ngaliyan.
Sampailah
gue ditempat penjual koran. Ternyata eh ternyata tukang koran tersebut udah
akrab banget sama nyokap. Kayaknya ini langganannya nyokap. Mentang-mentang
udah akrab sama si Emak, gue ditanyain dengan nada sok akrabnya.
“eh..
sekolah dimana dek?” tanyanya sambil senyum-senyum
“di
SMA 13” jawab gue sambil senyum-senyum juga
“apa?
SMA 3? Wah.. pinter dong” jawabnya sambil senyum juga
Gue
diem, gue bengong. Kenapa jadi SMA 3? Keren gila gue sekolah di sana. Gue cuma
membalasnya dengan tawa kecil gue. Gue langsung balik badan agar Bagde lokasi
sekolah gue nggak keliatan dan menggulung dasi gue. Biar nggak ketahuan.
Herannya, Nyokap nggak membenarkan apa yang didengar sang penjual koran
tersebut malah cuek sibuk liat-liat majalah. Entah nggak denger, atau pura-pura
nggak denger? Ya sudahlah, paling tidak gue jadi terlihat keren di mata tukang
koran langganan Mama. Cihuy.
Itu Punya Siapa?
Kalo udah kelas 12 nih, pasti anak-anak pada tobat. Terutama
yang beragama Islam seperti gue, anak-anak yang biasanya kalo istirahat oada
pergi ke kantin sekarang jadi pergi ke mushola atau masjid sekolah. Termasuk
gue, jujur aja gue kalo ibadah terkadang suka bolong. Apalagi shalat dhuhur,
pasti alasannya kalo nggak males karena capek pulang sekolah, pasti langsung
cabut main ketika pulang sekolah.
Jadi di kelas 12 ini gue mau melengkapi shalat gue yang
terkadang suka bolong dan gue sering menyebutnya dengan ‘tobat’. Lhah? Kok tobat? Emangnya nggak pernah shalat
sama sekali ya? ya nggak gitu.. tampang dan perilaku gue memang tidak
mencerminkan orang alim, melainkan kalo teman-teman gue bilang itu ‘gila’.
Kelakuan ‘gila’ gue disini bukanlah kelakuan gue yang suka
lari-lari di koridor kelas cuman pake celana dalem, melainkan kelakuan gue
semena-mena seperti tiba-tiba gue nyanyi sambil goyang-goyang sendiri, sit up
comedy (stand up comedy sambil duduk), dan terkadang ketawa-ketawa sendiri.
Wow, ini mah gangguan jiwa beneran.
Nah, suatu hari ketika gue kelas 12, gue ngajakin temen gue
Dyah buat shalat dhuhur di sekolah pada waktu istirahat kedua. Karena masih
awal-awal dan nggak terbiasa shalat di sekolah bahkan dirumah terkadang masih
sama-sama bolong, maka kami berdua hanya cengangas-cengenges dan berkata
“serius nih mau shalat?” dan inilah
percakapan diatara kami berdua.
“kak, ayo shalat!” ajak gue
“hehehe, beneran?”
“ya beneran! Kelas 12 waktunya tobat”
“wah, mentang-mentang kelas 12 langsung alim nih”
“hahaha, udah PD aja”
“lo bawa mukenah nggak?”
“nggak, tas gue udah penuh haha”
“jaelah, gue bawa mukenah nih.. katanya suruh bawa mukenah”
“udah.. pinjem di mushola aja”
Akhirnya kami berdua pun pergi ke mushola dengan PDnya
sambil cengangas-cengenges dan tampang penuh dosa.
“eh, perasaan tadi lo bawa mukenah sendiri dari rumah deh”
“halah, aku juga pinjem mushola aja ah”
“lho, gimana sih?” gue bingung
Sesampainya di sekolah perbuatan dosa gue mulai muncul
“wah, mau pinjem mukenah penuh banget begitu. Pasti entar dapetnya yang
jelek nih” keluh Dyah
“nggak dari tadi sih kesininya”
Tak lama kemudian gue muncul ide jahat. (heran, di mushola
aja masih ada setan yang ngeganggu)
“ah, aku punya ide kak”
“apaan?”
“kamu tau mukenah yang di depan situ? Paling mukenah itu
hasil pinjem sekolah. Keliatan kusut begitu”
“lha terus?”
“ya kita ambil aja.. kita aku-akuin kalo itu mukenah kita
hasil ambil di lemari mushola”
“kalo ketahuan gimana?”
“ya kita pindah posisi biar nggak ketahuan”
“ah, aku takut ah kak”
“halah, nggak apa, nggak bakal ketahuan”
“ yaudah” jawab Dyah nurut
Kami berdua pun langsung mengambil mukenah yang dituju,
memindahkannya dan mengambil air wudhu. Setelah wudhu kami langsung memakai
mukenah hasil sabotase sambil cengangas cengenges. Tiba-tiba ada adek kelas
nyamperin gue.
“mbak, itu mukenahnya siapa?”
“lhah, punya mushola kan?” jawab gue sambil melirik Dyah
“mukenahku hilang, aku bawa mukenah dari rumah dan mukenahnya sama kayak gini”
“amnesia kali kamu dek. Mungkin tadi dari rumah kamu itu
bawanya sarung. Hahaha” jawab gue cengengesan
“ah, ini mukenahku mbak”
“ah, sukanya ngaku-ngaku deh. Orang ini aku ambil dari
lemari mushola kok”
“masa sih? Coba lihat mukenahnya sini”
“eit, ya nggak bisa dong” tolak gue
“coba di balik mukenahnya, ada namaku nggak?” pinta dia
ngeyel
“ngeyel aja nih”
Gue pun membalik mukenah yang gue pake dan mencari sebuah
nama. Gue diem, gue bengong. Ada sebuah nama “SITI”. Gue melirik name tag adik kelas tersebut. Gue baca “SITI”. Kampret! Ini mukenah bawa dari
rumah ya? kenapa lucek banget begini? Gue kira dari mushola! Kampret super
duper dobel kampret! Gue cengengesan. Melirik ke Dyah yang juga ketawa. Gue
mulai lepas bagian bawah mukenah, lalu atas mukenah, dan kabur meninggalkan
Dyah. Gue langsung nyokor aja tanpa memakai kaos kaki dan sepatu.
Dan semenjak itu, setiap gue shalat di mushola gue selalu
membawa mukenah sendiri.
Sabtu, 03 November 2012
Rumput Liar
Aku rumput liar
Kala mentari menusuk sukma
Ku tersadar
Pagi telah tiba
Ku dengar batu terlempar
Ku bangkit dalam kereta dorong
Ku tatap sekitar
Kosong
Aku rumput liar
Kulit memar
Pandang nanar
Ku menari oleh angin
Melangkah tertatih
Dengan beban di punggung
Ku terseok terhempas
Siapa peduli
Aku rumput liar
Kala gelap tiba
Dingin menusuk kulit
Semesta pun membisu
Sunyi
Tiada menemani
Gelap gelap gelap
Aku pun terlelap
Langganan:
Postingan (Atom)
